Tampilkan postingan dengan label 2 sisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2 sisi. Tampilkan semua postingan
23 Juni 2009
ilmu menghargai dan menghormati
Andai saja kita semua menyadari betapa indahnya menghargai orang lain, tanpa harus melihat status sosial dan perbedaan keyakinan, Negeri ini akan menjadi tentram dan damai, tanpa menghargai dan menghormati orang lain negeri ini sedang berada di ambang kehancuran, mungkin bangsa ini sedang mendapat kutukan karena tidak bisa menghargai jasa para pahlawannya, atau tidak menghormati jasanya dengan menyia-nyiakan kemerdekaan ini dengan lupa diri, tidak pernah memikirkan nasib para veteran perang, yang sudah jompo dan hidupnya tak menentu, mari kita mulai dari diri kita sendiri, menghargai orang lain, menghargai perbedaan, menghargai waktu, menghargai kesehatan, dan masih banyak yang perlu kita hargai, tanpa berharap kita di hargai, lakukan dengan tulus dan ikhlas.
Anak dan Orang tua
Sering saya menerima curhat tentang masalah anak dan orang tua, kalau saya simpulkan dari semua curhat sebenarnya ada miss komunikasi antara anak dan orang tua, adanya perbedaan pandangan antara anak dan orang tua, saya akan sedikit mengurai perbedaan pandangan antara anak dan orang tua.
Pendapat orang tua cenderung menginginkan anaknya lebih baik dari dia, dengan cara yang dia anggap benar, ini adalah sisi negatifnya, disisi positifnya tidak ada satupun orang tua yang ingin anaknya sengsara, sebenarnya caranya yang harus di sesuaikan untuk mencapai tujuan yang di inginkan, para orang tua harus mempelajari perubahan zaman agar sesuai dengan perkembangan sang anak.
Pendapat anak terhadap orang tua cenderung ingin dimengerti tanpa mau tau tujuan orang tuanya yang sebenarnya, sebagian anak malah menganggap di penjara oleh aturan-aturan orang tuanya.
Dari dua pendapat di atas dapat saya simpulkan terjadinya kesalah pahaman antara anak dan orang tua adalah disebabkan kurang terbukannya komunikasi antara anak dan orang tua, orang tua sebagai contoh yang baik bagi anak harus memberikan contoh yang baik pada anaknya, contohnya kalau seorang orang tua ingin anaknya menjadi anak yang baik, orang tua harus melakukan hal-hal yang baik pula, dimulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar, kalau orang tuanya tukang korupsi lah masak berharap anaknya jadi anak yang bener, sifat anak tidak akan jauh dari sifat orangtua, kelakuan anak juga tidak akan jauh dari kelakuan orang tuanya.
Untuk yang berstatus masih sebagai anak hendaklah sedikit mengerti dan mempelajari kemauan orang tua, jangan berpikiran negatif dengan orang tua, jika anak tidak sependapat dengan kemauan orang tuanya hendaklah disampaikan dengan santun dan didiskusikan bersama orang tua, toh orang tua yang baik tidak akan memaksakan kehendak terhadap anaknya.
Demikian sekedar pendapat kecil ini, semoga bermanfaat bagi kehidupan keluarga anda, mohon maaf kalau saya kelihatan sok ngerti, tapi ini adalah pengamatan yang saya alami.
Pendapat orang tua cenderung menginginkan anaknya lebih baik dari dia, dengan cara yang dia anggap benar, ini adalah sisi negatifnya, disisi positifnya tidak ada satupun orang tua yang ingin anaknya sengsara, sebenarnya caranya yang harus di sesuaikan untuk mencapai tujuan yang di inginkan, para orang tua harus mempelajari perubahan zaman agar sesuai dengan perkembangan sang anak.
Pendapat anak terhadap orang tua cenderung ingin dimengerti tanpa mau tau tujuan orang tuanya yang sebenarnya, sebagian anak malah menganggap di penjara oleh aturan-aturan orang tuanya.
Dari dua pendapat di atas dapat saya simpulkan terjadinya kesalah pahaman antara anak dan orang tua adalah disebabkan kurang terbukannya komunikasi antara anak dan orang tua, orang tua sebagai contoh yang baik bagi anak harus memberikan contoh yang baik pada anaknya, contohnya kalau seorang orang tua ingin anaknya menjadi anak yang baik, orang tua harus melakukan hal-hal yang baik pula, dimulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar, kalau orang tuanya tukang korupsi lah masak berharap anaknya jadi anak yang bener, sifat anak tidak akan jauh dari sifat orangtua, kelakuan anak juga tidak akan jauh dari kelakuan orang tuanya.
Untuk yang berstatus masih sebagai anak hendaklah sedikit mengerti dan mempelajari kemauan orang tua, jangan berpikiran negatif dengan orang tua, jika anak tidak sependapat dengan kemauan orang tuanya hendaklah disampaikan dengan santun dan didiskusikan bersama orang tua, toh orang tua yang baik tidak akan memaksakan kehendak terhadap anaknya.
Demikian sekedar pendapat kecil ini, semoga bermanfaat bagi kehidupan keluarga anda, mohon maaf kalau saya kelihatan sok ngerti, tapi ini adalah pengamatan yang saya alami.
Hubungan Antara Niat Dan Cara
Semua berawal dari niat, jika niatnya baik akan berbuah kebaikan, itu betul tapi masih ada yang kurang, menurut saya niat yang baik harus disertai dengan cara yang sesuai, agar tujuan yang baik dapat tercapai dengan sempurna.
Disetiap posting saya kalau anda amati jarang sekali saya memakai kata benar dan salah, karena benar dan salah adalah sesuatu yang relative, benar menurut siapa dan salah menurut siapa, saya lebih suka memakai kata sesuai atau lainny, hubungan niat dan cara melakukan niat tersebut sangat erat, niat yang baik belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik pulah jika cara yang dilakukan tidak cocok.
Saya akan memberikan beberapa contoh hubungan antara niat dan cara penyampaian, bukahkah memberi orang lain harta adalah bukan niat yang buruk, mungkin lebih tepatnya memberi sedekah adalah bukan niat yang buruk, tapi kita harus menyesuaikan antara niat baik dan apa yang akan dilakukan, misalnya anda bertemu dengan orang miskin yang hampir tenggelam di sungai, anda punya niat baikuntuk menolongnya kebetulan anda adalah orang yang kaya raya, sehingga anda ingin menolong dengan melemparkan sekarung uang receh pada orang yang akan tenggelam itu, apa hasilnya? bukan hasil yang baik yang di capai tapi orang itu malah tenggelam karena anda lempari uang sekarung.
Yang ingin saya sampaikan di posting ini adalah keseimbangan antara niat baik dan perbuatan baik harus disesuaikan dengan kondisi yang sedang di hadapi, bersikaplah arif dan bijaksana dalam menghadapi masalah, jangan mendahulukan ego dan kepercayaanmu, santun pada manusia, santun pada alam, dan santun pada pencipta.
Disetiap posting saya kalau anda amati jarang sekali saya memakai kata benar dan salah, karena benar dan salah adalah sesuatu yang relative, benar menurut siapa dan salah menurut siapa, saya lebih suka memakai kata sesuai atau lainny, hubungan niat dan cara melakukan niat tersebut sangat erat, niat yang baik belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik pulah jika cara yang dilakukan tidak cocok.
Saya akan memberikan beberapa contoh hubungan antara niat dan cara penyampaian, bukahkah memberi orang lain harta adalah bukan niat yang buruk, mungkin lebih tepatnya memberi sedekah adalah bukan niat yang buruk, tapi kita harus menyesuaikan antara niat baik dan apa yang akan dilakukan, misalnya anda bertemu dengan orang miskin yang hampir tenggelam di sungai, anda punya niat baikuntuk menolongnya kebetulan anda adalah orang yang kaya raya, sehingga anda ingin menolong dengan melemparkan sekarung uang receh pada orang yang akan tenggelam itu, apa hasilnya? bukan hasil yang baik yang di capai tapi orang itu malah tenggelam karena anda lempari uang sekarung.
Yang ingin saya sampaikan di posting ini adalah keseimbangan antara niat baik dan perbuatan baik harus disesuaikan dengan kondisi yang sedang di hadapi, bersikaplah arif dan bijaksana dalam menghadapi masalah, jangan mendahulukan ego dan kepercayaanmu, santun pada manusia, santun pada alam, dan santun pada pencipta.
Perbedaan Sudut Pandang
Satu masalah, bisa jadi menimbulkan seribu persepsi, dan semua persepsi itu benar menurut pandangan masing-masing, tapi kebenaran yang paling tepat hanyalah satu dari seribu kebenaran itu, perbedaan pandangan ini wajar dan sangat indah jika di iringi dengan kesadaran perbedaan, tapi perbedaan ini akan menjadi malapetaka jika di iringi dengan fanatisme yang berlebihan, tapi kenapa fanatisme ini bisa berbahaya?, tidak semua fanatisme berbahaya, hanya fanatisme yang buta saja yang anti dengan perbedaan selalu menyebabkan perpecahan, entah itu adegan saling mengejek, saling melecehkan, saling mencaci, saling merendahkan, saling mendosakan bahkan sampai adegan perang dan adegan saling membunuh.
Tuhan menciptakan sesuatu di dunia ini berbeda-beda dan ini adalah sebagai rahmat, jika salah satu dari kita ingin menyeragamkan pandangan, secara tidak langsung anda sudah tidak menghargai apa yang telah di takdirkan oleh Tuhan, yang perlu saya ingat dan mengingatkan pembaca sekalian, bahwa sesungguhnya kebenaran dan kesempurnaan hanya milik Tuhan, kapan engkau melakukan kesalahan, yaitu saat kau merasa paling benar dari yang lain.
Semoga sedikit tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua, untuk menjadikan kita sadar tentang adanya perbedaan sudut pandang, fanatisme yang berlebihan adalah cermin dari sebuah kesombongan dan egoisme, dan semua mahkluk ciptaanNya sama sekali tidak berhak atas kesombongan itu.( Ampuni aku Tuhan atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan, baik yang aku sengaja dan tidak aku sengaja, semoga kita semua mendapat perlindungan dari Nya )
Tuhan menciptakan sesuatu di dunia ini berbeda-beda dan ini adalah sebagai rahmat, jika salah satu dari kita ingin menyeragamkan pandangan, secara tidak langsung anda sudah tidak menghargai apa yang telah di takdirkan oleh Tuhan, yang perlu saya ingat dan mengingatkan pembaca sekalian, bahwa sesungguhnya kebenaran dan kesempurnaan hanya milik Tuhan, kapan engkau melakukan kesalahan, yaitu saat kau merasa paling benar dari yang lain.
Semoga sedikit tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua, untuk menjadikan kita sadar tentang adanya perbedaan sudut pandang, fanatisme yang berlebihan adalah cermin dari sebuah kesombongan dan egoisme, dan semua mahkluk ciptaanNya sama sekali tidak berhak atas kesombongan itu.( Ampuni aku Tuhan atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan, baik yang aku sengaja dan tidak aku sengaja, semoga kita semua mendapat perlindungan dari Nya )
Langganan:
Postingan (Atom)